Mirota batik

Mirota batik

Mirota batik merupakan Pasar Beringharjo versi modern, yang menjual aneka suvenir, aneka batik, makanan dan minuman tradisional. Para wisatawan yang menginginkan barang-barang yang berkualitas dan tentunya dengan harga yang berbeda dari pasar tradisional harus mengunjungi tempat ini.

Merupakan bagian dari Mirota Grup, toko Mirota Batik sudah dikenal oleh para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Para pejabat setempat maupun pejabat negara juga para artis selalu menyempatkan untuk mengunjungi tempat ini untuk berbelanja batik maupun suvenir karena terkenalnya kualitas barang-barang yang dijual di sini. Suasana tradisional khas Yogyakarta sangat terasa di dalam tempat ini, lengkap dengan dupa, para pegawai yang berpakaian tradisional maupun batik, juga dekorasi ruangan yang membuat para pengunjung betah berbelanja di Mirota Batik.

Mirota Batik dapat dikunjungi di menjelang ujung selatan Malioboro yang merupakan pusat perbelanjaan dan banyak juga penginapan mulai dari losmen, homestay sampai hotel. Lokasi terletak di depan Pasar Beringharjo, serta di daerah Pakem, Jalan Kaliurang. Buka setiap hari dari pukul 09.00 sampai 21.00 WIB.

mirota batik

Bintaran

Bintaran

Bintaran terletak di sebelah barat daya Puro Pakualaman, dahulu merupakan tempat kediaman Pangeran Haryo Bintoro pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono. Di ujung utara kampung Bintaran terdapat Museum Jenderal Sudirman. Berjalan sedikit ke arah barat terdapat Museum Biologi. Juga terdapat Pusat Sastra dan Budaya Karta Pustaka, Murni Bakery, dan Bakmi Kadin.

 

Museum Kereta Keraton

MUSEUM KERETA KERATON

Museum Kereta Keraton yang berlokasi di Jalan Rotowijayan, di sebelah barat Keraton Yogyakarta, merupakan tempat penyimpanan kereta-kereta milik keraton kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kereta-kereta yang sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun tersebut merupakan benda pusaka keraton Yogyakarta dan setiap kereta mempunyai nama. Ada beberapa kereta yang masih dipergunakan oleh pihak keraton, salah satunya adalah Kereta Garuda Yeksa, atau sering disebut sebagai Kereta Kencana, yang dipergunakan pada saat penobatan Sultan. Kereta ini ditarik oleh delapan ekor kuda dengan warna dan jenis kelamin yang sama.

Setiap bulan Suro (bulan pertama menurut kalender Jawa) pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon dilaksanakan Upacara Jamasan Kereta Keraton, yaitu memandikan dan memberi sesaji kereta keraton. Setiap hari Museum Kereta ini dibuka untuk umum, dari pukul 09.00 sampai 15.30 WIB.

museum kereta keraton
foto : thejakartapost

Siti Hinggil dan alun alun selatan

Siti Hinggil dan alun alun selatan

Siti Hinggil dan alun alun selatan yang merupakan bagian dari kompleks keraton terletak di sebelah utara Alun-alun Selatan. Secara tradisi, kompleks Siti Hinggil digunakan untuk upacara-upacara resmi keraton. Bangsal Manguntur Tangkil, yang terletak di tengah-tengah Siti Hinggil dalam sebuah ruangan besar terbuka yang disebut Tratag Siti Hinggil, yang menjadi singgasana Sultan saat acara resmi keraton termasuk Pisowanan Agung, pernah menjadi saksi sejarah yaitu pelantikan Ir.Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia.

Siti Hinggil  juga pernah menjadi tempat perkuliahan para mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bahkan Universitas Gadjah Mada diresmikan di tempat ini. Sampai sekarang  pertunjukan wayang kulit dan seni budaya sering diadakan di panggung Siti Hinggil dan juga di Alun-alun Selatan.

Alun-alun Selatan atau Alun-Alun Kidul disimbolkan sebagai gajah yang memiliki watak tenang, sehingga tempat ini dianggap sebagai tempat menentramkan hati bagi banyak orang. Alun-alun Selatan setiap hari ramai dengan para pengunjung yang menikmati berbagai jajanan dan minuman tradisional di sekeliling alun-alun. Pada malam hari tempat ini semakin ramai dikunjungi anak muda maupun berbagai usia.

Yang khas dari Alun-alun Selatan adalah MASANGIN (Masuk Antara 2 Beringin), yaitu berjalan melewati dua pohon beringin yang berada di tengah alun-alun dengan mata tertutup. Apabila dapat berjalan lurus melewati kedua pohon beringin tersebut, maka semua permintaan akan terkabul. Setelah mencoba MASANGIN, pengunjung dapat menikmati wedang ronde atau bajigur serta jagung bakar, roti bakar, ataupun mie rebus atau mie goreng yang dijajakan di sepanjang sisi jalan di sekeliling alun-alun.

 siti hinggil dan alun alun selatan

 foto : worldstourism

 

Keraton Pakualaman

KERATON PAKUALAMAN

Keraton Pakualaman merupakan salah satu istana kadipaten di Yogyakarta yang berdampingan dengan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Jika Sri Sultan Hamengku Buwono menjadi penguasa Keraton Kasultanan sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, maka Sri Pakualam menjadi penguasa Keraton Pakualaman sekaligus Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII sampai saat ini Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Pakualam IX, Yogyakarta benar-benar menjadi daerah istimewa dengan duet kepemimpinan yang sangat didukung dan akan terus dipertahankan oleh seluruh masyarakat Yogyakarta.

Di sebelah selatan Keraton Pakualaman terdapat alun-alun kecil yang juga ramai dikunjungi masyarakat karena berbagai jajanan khas yang bisa dinikmati di sana, seperti sate gajih, rujak es krim, kupat tahu, soto, dan sebagainya.

Di sebelah barat daya Keraton Pakualaman terdapat masjid Pakualaman yang sering digunakan masyarakat sekitar dan para pengunjung untuk melaksanakan ibadah sholat wajib serta ibadah sholat Jumat.

Di dalam kompleks Keraton Pakualaman juga terdapat perpustakaan, pendapa yang sering digunakan untuk acara-acara keraton maupun pemerintah, serta stasiun radio Suara Istana.

Keraton Pakualaman

 

 

 

Panggung Krapyak

PANGGUNG KRAPYAK

Panggung Krapyak merupakan bangunan yang dahulu merupakan tempat para raja Kasultanan Yogyakarta berburu binatang liar, salah satunya rusa atau menjangan, sehingga bangunan ini juga dikenal sebagai Kandang Menjangan. Bangunan yang berusia hampir 250 tahun, terletak di daerah yang dahulu merupakan Hutan Krapyak, tempat Putra Panembahan Senopati wafat.

Bangunan Panggung Krapyak berbentuk persegi empat, dimana setiap sisi bangunan memiliki sebuah pintu dan dua buah jendela. Bangunan ini terbagi menjadi dua lantai. Lantai pertama memiliki empat ruang dan lorong pendek sebagai penguhubung pintu dari setiap sisi. Lantai dua merupakan ruangan terbuka yang cukup luas yang dibatasi pagar berlubang. Ketinggian bangunan ini diduga banyak orang berguna sebagai pos pertahanan, dimana dari tempat ini gerakan musuh dari arah selatan bisa dipantau sebagai peringatan dini bagi Keraton Yogyakarta. Para prajurit berjaga di tempat ini sekaligus berlatih berburu dan berperang.

Panggung Krapyak terletak di poros imajiner kota Yogyakarta, yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan atau Pantai Parangtritis.

Di sebelah selatan Panggung Krapyak terdapat kompleks Pondok Pesantren Krapyak yang menerima banyak santri dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

 panggung krapyak

 foto : antarafoto

 

tamansari istana air yogyakarta

Tamansari

TAMANSARI

Tamansari atau dikenal sebagai Istana Air merupakan bagian dari kompleks istana keraton Yogyakarta. Semula merupakan umbul atau mata air yang menjadi acuan pembangunan keraton di masa pemerintahan Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I. Terdapat banyak kolam di tempat ini karena dahulu merupakan pemandian keluarga raja, yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), Umbul Panguras (kolam untuk raja). Istana air ini dipenuhi dengan berbagai macam bunga yang harum, sehingga disebut Tamansari.

Selain sebagai tempat menentramkan hati, beristirahat, dan tempat rekreasi, di tempat ini juga terdapat lorong bawah tanah sebagai benteng pertahanan apabila keraton dalam kondisi berbahaya. Juga terdapat masjid bawah tanah yang disebut Sumur Gumuling yang dirancang sedemikian rupa sehingga suara imam ketika memimpin sholat dapat terdengar dari berbagai penjuru. Satu lagi bagian dari Tamansari yaitu Gedung Kenongo yang merupakan gedung tertinggi, sehingga keseluruhan Tamansari bisa dinikmati dari tempat ini.

Tamansari terletak di antara rumah-rumah penduduk, sehingga para penduduk bisa sekaligus memperlihatkan dan menjajakan berbagai hasil seni seperti lukisan, suvenir, batik, dan sebagainya. Tamansari memiliki dua pintu utama, yaitu Gapura Agung yang menghadap ke Barat dan Gapura Panggung yang menghadap ke Timur.

Keindahan Tamansari baik kolam, taman, lorong-lorong, dan berbagai sudut lainnya menjadikan tempat ini sebagai lokasi syuting, lokasi foto pre wedding, juga tempat para fotografer mempraktekkan keahliannya dalam membidik gambar.

Bagi yang ingin menyaksikan keindahan Tamansari dapat mengunjungi tempat ini yang dibuka setiap hari dari pukul 09.00 sampai 15.30 WIB, dengan harga tiket Rp 10.000,00.

tamansari

 

 

 

Keraton Kasultanan dan Alun Alun Utara

Keraton Kasultanan dan Alun Alun Utara

Keraton Kasultanan dan Alun Alun Utara atau biasa disebut juga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan salah satu dari beberapa keraton yang masih tersisa di Indonesia. Dengan Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai rajanya, keraton Yogyakarta sangat istimewa karena sang raja tidak hanya berkuasa di lingkungan keraton tetapi juga menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang didukung penuh oleh seluruh masyarakat Yogyakarta.

Terletak di pusat kota Yogyakarta, keraton kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berada di tengah-tengah (sumbu imajiner atau garis lurus) antara gunung Merapi dan pantai Parangtritis, dimana  banyak orang Jawa percaya bahwa ketiga tempat itu memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Keraton sampai saat ini masih melaksanakan berbagai ritual di lingkungan keraton, di pantai Parangtritis, dan di kawasan gunung Merapi.

Selain melaksanakan berbagai ritual, Keraton Yogyakarta juga terbuka untuk berbagai pertunjukan seni dan budaya. Setiap hari selalu ada pergelaran seni, yaitu musik gamelan, wayang, tari, dan macapat di kompleks keraton. Di Alun-alun Utara sering diselenggarakan panggung seni yang terbuka untuk umum. Setiap setahun sekali masyarakat Yogyakarta dan para wisatawan dapat mengunjungi Pasar Malam Sekaten serta menyaksikan Grebeg Maulud di Alun-alun Utara, yang merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam yaitu perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW.

Keraton Yogyakarta memiliki dua loket masuk, yaitu Tepas Keprajuritan, yang terletak di depan Alun-alun Utara, dan Tepas Pariwisata, di Regol Keben. Banyak sekali koleksi barang-barang keraton yang disimpan dalam kotak kaca yang bisa disaksikan. Selain menikmati pertunjukan seni, setiap Selasa Wage pengunjung bisa menyaksikan lomba Jemparing atau panahan gaya Mataraman di Kemandhungan Kidul, dimana para peserta wajib mengenakan busana tradisional Jawa dan memanah dalam posisi duduk.

Di sebelah barat Alun-alun Utara terdapat Masjid Gede Kauman, yang merupakan masjid keraton. Para pengunjung dapat melaksanakan ibadah sholat sekaligus melepas penat sejenak di lingkungan masjid yang luas dan sejuk.

Keraton Yogyakarta dibuka untuk umum setiap hari dari pukul 09.00 sampai 15.30 WIB. Hanya dengan tiket seharga Rp 10.000,00 pengunjung dapat menyaksikan keindahan keraton kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

 Keraton Kasultanan dan Alun Alun Utara